Belajar menulis lagi…

November 16, 2009

Menulis lagi yah………


Musabaqoh Fahmil Qur’an MTQ Mahasiswa Nasional Lhokseumawe Aceh

Juli 30, 2009

Keberadaan saya di Aceh sudah memasuki hari yang ke-5. Dan pada hari ini juga saya kandas di cabang Fahmil Qur’an pada babak semifinal. Memang nasib kurang mujur bagi saya karena saya harus bertanding dengan juara Fahmil Qur’an tahun lalu yaitu Universitas Andalas. Di babak semifinal tadi, kami dari ITB bertanding bersama Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Indonesia, dan Universitas Andalas (Padang). Skor juara I sangat jauh sekali dengan juara II, sehingga di pertandingan tadi sebenarnya juara I tidak mendapatkan perlawanan yang sengit.

Menangnya Universitas Andalas pada babak semifinal tadi memang wajar karena ketiga peserta Fahmil Qur’an tersebut memang syarat akan bakat. Seorang pendamping kanan putri yang Hafidzah dan menguasai Qiro’ah 7 lagu, pendamping kiri yang Hafidz dan menguasai sejarah, dan seorang juru bicara yang jago bahasa Inggris dan bahasa Arab alumni Pondok Pesantren Modern Gontor sudah cukup untuk memperkuat ‘personil’ mereka. Selamat saya ucapkan kepada pemenang, dan bagi Jaelani ini bukan akhir dari semuanya….

Semangat jae,,,,,,,,


Pesta Demokrasi

Juli 9, 2009

Untuk kesekian kalinya, rakyat Indonesia menggelar pesta demokrasi. Kali ini, adalah pesta pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Meski masih banyaknya perdebatan tentang demokrasi di Indonesia ini, saya selaku warga negara Indonesia juga turut serta dalam pemilu ini. Nih, bekas tintanya sedikit masih ada di jari kelingking kiri.

Melihat hasil pemilihan umum di beberapa TPS yang saya hadiri (secara gitu, kan saya jadi saksi…hehheheh), hasil yang diperlihatkan media elektronik memang layak dibenarkan. Walaupun dua hasil dari KPU dan LSI masih berbeda, tapi tetap saja dua-duanya menempatkan pasangan SBY-Boediono sebagai calon yang memimpin. Dan di luar dugaan, pasangan JK-Wiranto justru berada di urutan ketiga. Bisa jadi sih, hasil ini dipengaruhi oleh sering ditayangkannya debat antar calon kemarin-kemarin di Televisi.

Siapapun Presiden yang terpilih, saya ucapkan selamat dan mudah-mudahan bisa menjalankan amanah dengan baik yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah Swt.

Ya Allah, limpahkan Rahmat-Mu kepada pemimpin yang telah kami pilih..

Kami memilih, tapi sesungguhnya Engkau lah yang menentukan……

Jadikanlah negeri ini, Baldatun Thoyyibun Wa Robbun Ghofuurr….

Amin……. ya robbal ‘Alamin……….


Web browser ternyata lebih cepat

Juli 7, 2009

Setelah menggunakan aplikasi opera mini di HP saya ketimbang menggunakan IE, ternyata optimasi akses yang dapat terasa meningkat. Bahkan ketika migrasi ke PC dan menggunakan opera pun ternyata lebih cepat juga. Pertanyaan nya, apakah jenis browser yang kita gunakan bisa mempengaruhi akses internet kita?


Setelah seharian gak bisa nginstall Matlab 2007 di kantor

Juni 30, 2009

Memang penat ketika saya seharian gak bisa nginstall Matlab sebagai tools TA saya. Sore ini, ya mudah-mudahan tulisan ini sedikit menghibur kepenatan ini. Ketika kita membicarakan penafsiran Al Qur’an, salah satu hal penting adalah pehamanan kita terhadap tata bahasa Arab. Kenapa? Ya karena Al Qur’an diturunkan dalam bahasa arab. Hikmah diturunkannya Al Qur’an dalam bahasa Arab sendiri adalah karena dulu ketika Allah Swt. mensyari’atkan agama islam, keadaan bangsa Arab sangatlah jahiliyah dengan tingkat kekufuran yang sangat. (……..الاعراب اشّد كفرا). Buruknya akhlak bangsa arab ketika itu berbanding terbalik dengan kebudayaan yang mereka miliki. Perkataan yang mereka keluarkan seringkali dikemas dalam bentuk syair, nadzom (lagu), dan jenis karya lainnya yang sebenarnya memiliki nilai sastra yang tinggi. Akan tetapi, tingginya sastra budaya bangsa arab ketika itu langsung kalah dengan indahnya bahasa Al Qur’an. Jadi, bisa dikatakan pada waktu itu para penyair yang tangguh sangat terpukul telak dengan hadirnya Al Qur’an dengan nilai sastra tiada tandingan. Bahkan sampai ada yang membenarkan bahwa tingginya nilai sastra Al Qur’an mengindikasikan bahwa ucapan (baca:Al Qur’an) itu bukan berasal dari makhluk. Nah, sebenarnya ilmu apa sih yang terkandung dalam Al Qur’an dilihat dari ketatabahasaannya? Ilmu Tata Bahasa Arab (Nahwu & Shorof) merupakan salah satunya. Dengan ilmu ini, kita bisa tahu jabatan suatu kata (kata dalam bahasa arab diartikan sebagai ‘kalimah’), arti yang cocok untuk bentuk (shighat itu), dan aturan pengharokatannya. Tidak hanya dengan ilmu itu, jika kita ingin lebih mengeksplor ma’nanya, kita minimal memerlukan tiga ilmu lainnya. Kombinasi tiga ilmu ini sering disebut ilmu Balaghoh. Ilmu yang pertama adalah Ilmu Ma’ani. Mengutip dari blog orang lain bahwa “Ilmu Ma’ani adalah pokok-pokok dan dasar-dasar untuk mengetahui tata cara menyesuaikan kalimat kepada kontekstualnya (muqtadhal halnya) sehingga cocok dengan tujuan yang dikehendaki.”. Gambarannya gini. Misalnya ketika kita berbicara di depan anak-anak dengan berbicara di depan bapak-bapak pasti kita bisa membedakan bukan? Nah, membedakannya itu dengan ilmu tersebut. Ilmu yang kedua adalah Ilmu Bayan. Dari blog yang sama, bahwa ilmu ini adalah “Dasar-dasar dan kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan satu makna dengan beberapa cara yang sebagiannya berbeda dengan sebagian yang lain dalam menjelaskan segi penunjukan terhadap keadaan makna tersebut.” Lebih faham kalau saya analogikan ilmu ini dengan ilmu majas dalam bahasa indonesia. Kan ada majas perbandingan, perumpamaan, dll. Ilmu yang ketiga adalah Ilmu Badi’. Sama sumbernya dengan dua di atas, ilmu ini adalah “Suatu ilmu yang dengannya diketahui segi-segi dan keistimewaan-keistimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan menguasinya dengan kebaikan dan keindahan setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi serta jelas makna yang dikehendaki.”. Misalnya ketika kita berbicara di depan hadirin pada suatu acara resepsi seringkali kita berucap dengan pantun-pantun yang berima, berpola, dan bernada sehingga enak didengar. Nah, kalo di dalam bahasa arab namanya ilmu Badi’. Ilmu Pertama yang harus pertama dikaji, selanjutnya langsung ke ilmu yang kedua dan yang ketiga. Tentu dengan pemahaman ketiga ilmu itu ditambah Tata Bahasa Arab (Nahwu & Sharaf) tadi, kita insya Allah akan mudah untuk mempelajari isi Al Qur’an. Walaupun Al Qur’an berasal dari bahasa Arab, janganlah kita beranggapan bahwa Al Qur’an harus mengikuti kaidah keempat ilmu di atas, justru sebaliknya keempat ilmu itu bersumber dari Al Qur’an. Jadi, ketika kita sudah sangat menguasai keempat ilmu itu dan menemukan ketidaksesuaian aturan atau ma’na Al Qur’an dengan keempat ilmu tersebut, maka kita jangan berani menyalahkan Al Qur’an. Jika terjadi hal tersebut, berarti ilmu itu belum bisa mengambil seluruh sumber dari Al Qur’an (Subhanallah…). Seperti itulah yang saya fahami mengenai ilmu tersebut. Dan sebenarnya masih banyak ilmu yang lain lagi. Mohon masukan dan diskusinya… Terima Kasih,,,, (Kok Out of Topic dari judulnya ya??)


Tiga puluh menit bersama sang “Master”

Juni 29, 2009

Setelah mendengar meninggalnya istri beliau, saya mengajak teman saya Alfath untuk berta’ziyah ke rumahnya. Walaupun belum tahu dimana, tapi kami berusaha mengontek temen2 kami yg mungkin tahu. Akhirnya Alfath dapat informasi dari Jejey temen kami juga dan mengajak langsung jejey ikut bersama kami (tepatnya kami juga nebeng mobil Jejey sih…:D). Grung…. bertolaklah kami ke rumah beliau di Jl. Sukajadi No. 236 (CMIIW).

Sesampainya di lokasi kami yakin bahwa kami tidak slah alamat, buktinya ada mobil Toyota Yaris putih dengan Nopol D 313 HT. Alhamdulillah, hati saya berkata akhirnya bisa juga ketemu Bapak ini di rumahnya. Rumah yang kami kira sebelumnya akan penuh dengan pernak pernik serba antena (secara gitu kan dosen legendaris antena) ternyata malah dipenuhi beragam jenis mobil. Di gerbang depan pun tertulis bahwa di rumah itu ada bengkel mobil. Kedatangan kami disambut seseorang berkemeja putih yang mirip dengan beliau.

“Mau bertemu siapa?”, tanya orang berkemeja putih

“Bapak Herman, kami mahasiswanya”, jawab saya.

Akhirnya kami bisa juga bertemu dengannya. Inilah kurang lebih isi obrolan kami:

Pak Herman sendiri yang memulai obrolan malam itu. Dimulai dengan pertanyaan kepada kami dengan

“Anda sudah lulus(antena) kan” (Sambil nunjuk ke saya).

“Alhamdulillah sudah Pak”, jawab saya.

Pertanyaan serupa dilontarkan pula ke Alfath dan Jejey. Setelah itu, obrolan satu arah dari Pak Herman malam itu langsung bertema antena. Beliau bercerita bahwa angkatan paling sukses antenanya masih dipegang angkatan 1977 dengan kehadiran rata-ratanya 90%. Dari data itu beliau langsung berkomentar bahwa tingkat kelulusan mata kuliah antena yang dipegangnya dari tahun 1962 berbanding lurus dengan tingkat kehadiran. So, bagi yang ikut mata kuliah ini bareng Pak Herman, pada awal kuliah pasti bakal disuguhi pernyataan Pak Herman kurang lebih seperti ini,

“Saya tidak peduli anda hadir atau tidak pada mata kuliah ini, saya malah lebih senang jika anda tidak hadir dan belajar sendiri di rumah seperti di sekolah di Inggris. Di Inggris ada sekolah yang mahasiswanya disuruh belajar sendiri dan hadir ke kampus pas ujian saja. Ternyata tingkat kelulusan mereka tinggi. Namun, sepengalaman saya mahasiswa yang tingkat kehadirannya di bawah 60% tidak mungkin lulus pada mata kuliah ini”.

Jadi, ayo angkatan muda yang lain, pecahkan rekor angkatan 77 tersebut.

Setelah beliau beres dengan awalan obrolan antena, akhirnya saya membuka maksud dan tujuan kami ke sana. Kami bermaksud untuk silaturahmi dan turut berduka cita atas meninggalnya istri beliau. Beliau pun menanggapi dengan ucapan terima kasih. Dan dari maksud itulah kemudian beliau mengungkapkan pula penyebab kematian istri tercintanya. Ibu Titin meninggal karena gagal ginjal dan sudah berobat cuci darah selama lima tahun. Cukup lama juga ya. Dan Pak Herman juga ternyata tahu banyak tentang kesehatan.

Awalnya beliau bercerita terlebih dahulu tentang penyakit yang pernah menyerang beliau, yaitu asam urat. Konon katanya penyakit ini bisa juga mengakibatkan gagal ginjal (itu kata Pak Herman ya..). Jadi, bagi pembaca yang punya asam urat informasi ini mudah2an bisa sedikit membantu. Penyakit ini disebabkan karena adanya kadar asam urat dalam tubuh kita yang terlalu berlebihan. Sebenarnya tubuh kita mempunyai antibodi untuk penawarnya sih, tapi jika sudah kebablasan dosisnya dalam tubuh kita bisa aja kita menambahkan obat yang sebenarnya mengandung zat yang sama dengan antibodi yg dihasilkan tubuh kita itu. Gejala yang timbul biasanya terasa nyeri pada bagian persendian tubuh karena terjadi pengendapan yang membentuk jarum seakan-akan menusuk bagian tubuh dalam kita. Nah, kasus yang gagal ginjal itu kebetulan yang diserangnya bagian ginjal (Na’udzubillah….).

Makananlah penyebabnya timbul penyakit asam urat ini. Pak Herman pun bilang kalau ternyata sayuran itu menyuplai kadar asam urat yang paling sedikit (semua makanan katanya ada kadar asam uratnya). Makanan jeroan-lah yang paling banyak menyuplai asam urat. Babat lah, hati lah, dll. Jadi, bagi penggemar daging bagian dlam apapun hati-hati ya, mesti sering cek kadar asam urat dan antibodi di tubuh kita (saya lupa apa ya nama antibodinya). Karena beliau pernah terserang penyakit ini, sampai sekarang beliau masih mengonsumsi obak Generik yang harganya super murah untuk menghasilkan antibodi terhadap asma urat tersebut. Katnya dari tahun 1999 alhamdulillah beliau belum pernah terserang lagi.

Intinya, obrolan setengah jam tersebut sangat berkesan, banyak hikmah yang bisa kami ambil. Salut lah untuk dosen senior ini. FYI, beliau adalah angkatan ITB tahun 1956 dan mulai ngajar tahun 1962. Selain pengetahuan dunia antena di perkuliahan ternyata beliau juga banyak tahu tentang kesehatan. Terima kasih Pak, salut… semoga tetap sehat dan bisa terus berbakti ke ITB.


“Jadilah yang terbaik”

Juni 15, 2009

Inilah quote hari ini yang saya terima pada hari pertama Magang saya di Telkom Risti Bandung.

Bapak dan Ibu pembimbing saya disana alhamdulillah sepertinya akan selalu membimbing saya di program co-op Telkom selama tiga bulan ini. Program co-op adalah salah satu bentuk peduli Telkom kepada masyarakat yang diwujudkan dalam bantuan pendidikan melalui pemberian kesempatan kepada para mahasiswa yang sudah terseleksi untuk bisa ikut serta dalam kegiatan industri Telkom.

Di hari pertama, sya dikenalkan dengan beberapa orang penting yang mengurus program co-op ini. Uniknya, salah satu dari mereka adalah dari bagian HR (Human Resources). Saya baru sadar ternyata orang HR itu enak di ajak bicara ya. Ini itu, dia tahu segala hal…..

Cerita lainnya nanti setelah saya benar-benar sudah masuk ke jobdesk yang diberikan. Semangat………


Tuagas Akhir..

April 21, 2009

Untuk menyelesaikan masa perkuliahan di ITB ini, biasanya mahasiswa diharuskan membuat Tugas Akhir yang sesuai dengan program keahlian yang dia ambil di tiap-tiap Program Studi. Berdasarkan cerita dari senior-senior yang sudah lulus, pengerjaan tugas akhir ini kadang terkesan berkesan banget. Ada yang sampai lupa gak pulang-pulang ke kosannya nginep di Lab., ada yang udah bosen sampai akhirnya ngerjain TA-nya pas udah mau di DO banget, dan ada cerita lainnya.
Memang orientasi dari pembuatan tugas akhir ini adalah agar mahasiswa yang bersangkutan bisa mengaplikasikan seluruh materi perkuliahan yang sebelumnya sudah dia peroleh.
Yah, mudah-mudahan lancar lah tugas akhir saya…Amin…………..


Ilmu Tajwid

April 18, 2009

Sebagai suatu bacaan yang bernilai ibadah bagi seorang muslim, sangatlah pantas jika Al Qur’an memiliki prasyarat ilmu untuk membacanya. Tanpa tahu maknanya pun kita tetap mendapatkan pahala ketika membacanya. Namun, bacaan seperti apa yang akan mendapatkan pahala tersebut? Apa sembarangan bacaan saja?
Bacaan yang termasuk kategori ibadah tersebut adalah bacaan yang sesuai dengan ilmu tajwid. Dalam ilmu ini, dibahas jenis huruf al Qur’an baik itu tempat keluarnya huruf tersebut, sifat huruf, dan karakteristik yang lain. Selain itu, hukum-hukum pembacaan yang lain juga dibahas dengan berlandaskan pada kaidah-kaidah yang telah disusun oleh para Ulama. Sebenarnya, hukum mempelajari ilmu ini hanya Fardlu Kifayah, artinya jika ada salah seorang dari kumpulan kaum yang mempelajari Ilmu ini, maka gugur kewajiban kaum yang lain. Namun, membaca Al Qur’an dengan Ilmu Tajwid hukumnya Fardlu ‘Ain, yaitu fardlu (kewajiban) yang diembankan kepada setiap muslim dengan tidak ada pengecualian. Jadi, kalau mau terlepas dari kewajiban tersebut, maka bacalah Al Qur’an dengan Ilmu Tajwid, dan mau tidak mau harus belajar Ilmu Tajwid. Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca sekalian, mari kita mempelajari Ilmu Tajwid. Mudah-mudahan, sarana blog ini bisa memfasilitasi kita… Amin…..


Tes….

April 16, 2009
<a href="http://danasatriya.wordpress.com" target="_blank">Dana</a>

Baca entri selengkapnya »