KEIMANAN DAN KETAQWAAN

Manusia akan mulya dan bermartabat di sisi Allah jika ia bisa memperoleh derajat keimanan dan ketaqwaan dengan amal ibadah dan tingkah laku yang dia kerjakan.

Keimanan dan ketaqwaan adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Jika kita melihat dari definisi kedua istilah tersebut tentunya hubungan antara kedua nya terlihat dengan jelas.

Keimanan diambil dari kata iman yang secara bahasa diartikan percaya. Namun, setelah mendapat imbuhan ke-an maka kata tersebut bisa diartikan menjadi suatu nilai religius yang dimiliki oleh setiap muslim untuk cenderung melakukan segala hal sesuai dengan aturan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kehidupan yang dijalaninya teratur sedemikian rupa. Dari definisi di atas tentunya kita bisa melihat syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap individu yang mengharapkan keimanan tersebut. Syarat itu tiada lain adalah keadaa muslim. Setiap mu’min (orang yang memiliki keimanan bagus) pasti seorang muslim juga, tetapi pernyataan tersebut tidak sebaliknya. Hubungan antara dua keadaan (mu’min dan muslim) tersebut bisa disebut Nisbat ‘Umum Khusus Muthlaq.

Keimanan yang dimiliki oleh tiap-tiap individu manusia di alam dunia ini berbeda-beda. Bahkan dalam suatu Hadits disebutkan bahwa keimanan seseorang itu bisa meningkat dan berkurang. Namun, yang ingin dibahas pada kesempatan ini adalah mengenai sedikit revisi pada penafsiran hadits tersebut. Jika kita baca dalam di halaman awal kitab Qoomi’uttughyan, kita bisa menemukan bahwa keimanan adalah suatu hal yang mutlak. Mutlak disini diartikan sebagai keadaan “ya” atau “tidak”. Dalam istilah dunia Elektro biasa diartikan keadaan biner “1” atau “0”. Oleh karena itu, apabila seseorang muslim berkurang keimanannya maka ia jatuh kafir (na’udzubillahimindzaalik) dan untuk menjaga keimanan tersebut maka ia dianjurkan untuk tetap menjaga keimanannya pada batas tertentu. Dengan demikian, ada sebagian ulama yang menafsirkan bahwa yang dimaksud berkurang pada hadits tersebut (yang tadi disebutkan) adalah akibat keimanan bukan keimanan itu sendiri. Kata akibat disini meruju’ pada kegiatan ibadah yang dilakukan. Tentu kita bisa melihat apabila seseorang dikatakan turun kadar keimanannnya maka yang berkurang dari dirinya adalah kualitas dan kuantitas ibadah yang dilakukannya. Dari penafsiran hadits diatas semoga kita bisa terhindar dari penafsiran yang salah terhadap suatu referensi. (Wallaahua’lamubishshowaab)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: