Perbedaan karya tulis dan Film

Dulu pas membaca novel best seller “Ayat-ayat Cinta” rasanya perasaan kita dibawa oleh penulis menuju negeri seribu menara (baca:Mesir) dan seolah-olah merasakan panasnya daratan timur tengah tersebut. Namun, ketika kita menonton yang katanya diambil dari novel tersebut saya rasa tidak ada sedikitpun sense ke-Mesir-an yang dirasa dari film tersebut. Dengan bahasa Indonesia yang biasa digunakan dan adegan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Fahri film tersebut seakan beda banget dengan jalan cerita di novelnya. Pertama sih keinginan untuk nontonnya tinggi banget, tapi setelah nonton malah pengen ngata-ngatain tuh Film. Memang benar ternyata ada sesuatu kelebihan yang dimiliki oleh tulisa yang tidak dimiliki oleh perwujudan melalui karakter seseorang. Atau mungkin jiwa seorang tokoh yang diceritakan di novel itu terlalu sempurna??

Ah, gak tau lah. Pokoknya kecewa deh ama tuh film, jadinya sekarang mending ngelanjutin cerita Habiburrahman Elshirazy di Ketika Cinta Bertasbih…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: