Hikmah Penamaan Al Qur’an

Tak jarang kita menemukan seseorang mempunyai nama sebutan yang lebih dari satu. Karena kebiasaan mendengkur, seseorang bisa disebut si “dengkur” dan karena kebiasaan melamun, seseorang bisa disebut si “lamun”. Orang yang membuat sebutan tersebut biasanya tak peduli apakah orang yang bersangkutan menerima atau tidak karena hal itu dilakukan tiada lain adalah untuk lebih mengetahui kebiasaan seseorang.

Jika kita cermati lebih teliti ternyata Al Qur’an juga memiliki sebutan lebih dari satu. Ada “Al Bayan” yang artinya penjelas, “Al Furqon” yang artinya pembeda, “Al Qur’an” artinya bacaan, dan “Al Kitab” yang artinya tulisan. Tentunya ada nama-nama lain yang tidak bisa penulis sajikan semuanya di sini.

Apa hikmah di balik penamaan tersebut?? Tentunya pertanyaan tersebut akan tersirat di kening kita ketika kita tahu alasan kenapa seseorang sampai dijuluki dengan berbagai nama oleh orang lain. Al Qur’an sebagai wahyu Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam dengan perantara malaikat Jibril ‘Alaihissalam memiliki sifat-sifat yang diwakili oleh nama-nama yang diberikan ulama-ulama dahulu. Alasan ulama-ulama tersebut adalah karena terdapat suatu ayat yang mendasari akan penamaan tersebut. Dengan kata lain Allah Subhanahu wata’ala memang sudah memaktubkan nama lain tersebut dalam Al Qur’an. Namun, dua nama yang paling sering kita dengar adalah Al Qur’an dan Al Kitab.

Telah berkata Dr. Muhammad Abdullah Daroz dalam kitab Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an bahwa alasan penamaan dengan nama Al Qur’an adalah karena sering dibacanya Al Qur’an oleh lisan-lisan kaum muslimin, dan penamaan dengan nama Al Kitab adalah karena Al Qur’an ditulis dengan menggunakan Qolam. Orang Arab mengkategorikan dua penamaan tersebut pada bab Tasmiyyatu sysyai bil ma’nal waaqi’I ‘alaihi (Pemberian nama terhadap sesuatu dengan ma’na yang ada padanya). Akan tetapi, dari kedua nama tersebut terdapat suatu isyarat yang menegaskan bahwa Al Qur’an memiliki hak untuk dijaga keagungannya dalam dua hal tidak cukup dalam satu hal. Dengan kata lain Al Qur’an harus dijaga dalam bentuk hafalan di hati dengan sering membacanya dan dalam bentuk tulisan dalam kitab tentunya. Alhasil ketika ada seseorang yang hendak menjaga Al Qur’an dalam bentuk hafalan maka ia harus menyamakan dengan referensi yang ada dalam bentuk tulisan (baca : Kitab), dan ketika sebuah toko percetakan hendak menjaga Al Qur’an dalam bentuk tulisan maka sudah merupakan suatu syarat untuk menyamakannya dengan hafalan Huffadz yang telah terbukti keakuratannya.

Dengan adanya dua penamaan yang telah dijelaskan sebelumnya, Al Qur’an akan senantiasa terjaga kemurniaanya dalam jiwa-jiwa umat Muhammadiyyah sampai akhir zaman. Dan janji Allah Subhanahu wata’ala dalam Al Qur’an yang akan menanggung kemurnian tersebut akan tetap terjaga sampai hari akhir nanti karena Al Qur’an ini beda dengan kitab sebelumnya yang mengalami perubahan, pergantian, dan pemutusan sanad. Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala kita akan kembali.

Wallahua’alam…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: