Diskusi baru (lanjutan..)

Sebelumnya :

Pemamahan masalah ilmu kalam bisa didekati dengan pemahaman kita terhadap definisi Ushul dan Furu’ yang kita kenal dalam ruang lingkup ilmu fiqih.
udah mau maghrib, nanti disambung…

Selanjutnya :

Ketika kita berbicara dalam ruang lingkup Fiqh, maka definisi Ushul dan Furu’ akan mengena lewat pemahaman langsung terhadap ilmu Ushul Fiqh dan ilmu Fiqh.  Dalam  Ilmu Ushul tentu tak sering kita temui sesuatu perbedaan pendapat di dalamnya, tapi dalam Fiqh jelas kita sering menemukan perbedaan yang mengandung Rohmat di dalamnya.

Nah, begitu pun pula dalam ilmu Kalam, atau yang sering disebut ilmu Tauhid. Sifat Allah baik yang wajib, mustahil, dan jaiz, sifat Rasul baik itu wajib, mustahil, dan jaiz harus kita ketahui dan sudah di racik pasti oleh para ulama dengan tanpa perbedaan di dalamnya. Tentu usaha yang dilakukan untuk meracik ilmu tersebut tidaklah gampang. Analoginya sama dengan ilmu Ushul Fiqh bukan? Jadi, saya pikir ketika kita membahas ilmu tersebut, kita hanya bisa mengkaji untuk hanya sebatas mengetahui, tidak bisa sampai mencoba mengecek kembali kebenarannya. Selanjutnya, analogi yang sesuai dengan ilmu Fiqh yang didalamnya sering terdapat perbedaan adalah kajian lanjut dari ilmu tauhid itu sendiri. Kajian lanjut di sini maksudnya kajian yang melebihi dari syarat minimal yang wajib diketahui oleh seorang muslim dalam hal pemahaman Tauhid. Contoh yang paling relevan menurut saya adalah pembahasan mengenai Wujud-nya Allah. Syarat minimal bagi seorang muslim tentu hanya tahu wajibnya Sifat Wujud bagi Allah dan dalil Naqli serta ‘Aqli yang menguatkannya, tidak lebih dari itu. Adapun pembahasan mengenai Wujud-nya Allah adalah hal lanjut yang lebih pelk tentunya. Nah, dalam pembahasan mengenai Wujud-nya Allah tersebut saya menemukan perbedaan para ulama yang menafsirkannya.

Dalam sebuah kitab Sanusy saja, setidaknya ada dua pendapat mengenai Wujud-nya Allah tersebut. Ada yang bilang bahwa Wujud-nya Allah adalah ‘Ain-nya Dzat Allah, tapi ada yang bilang juga bahwa Wujud-nya Allah itu adalah Ghoir ‘Ain (mengenai pembahasan ‘Ain dan Ghoir ‘Ain ini saya sendiri masih bingung…:D).  Namun, kembali saya tekankan bahwa perbedaan tersebut masih dalam ranah yang diperbolehkan karena itu dia, seumpama ilmu Fiqh yang di dalamnya sering terdapat perbedaan pendapat.

Semoga kita bisa mengambil rohmat yang ada pada perbedaan tersebut.

Ikhtilaafu ummati rohmatun……

2 Balasan ke Diskusi baru (lanjutan..)

  1. irfan mengatakan:

    kalau menurut saya dalam perkara aqidah kita perlu berhenti sampai pada batas minimalnya seperti yang anda sampaikan. kalau diperdalam akan timbul perbedaan, seperti yang anda sampaikan juga.

    fikih memang perlu diperinci karena akan kita pakai dalam keseharian. walau salah kita tetap dapat satu pahala. aqidah tidak dirinci atau hanya mengambil batas minimal tidak apa2. tapi kalau dirinci dan akhirnya salah bukankah artinya menentapkan sifat yang salah pada Allah. jadi mengapa kita perlu merinci permasalahan aqidah?

  2. Uchiha Budi mengatakan:

    Semua orang hidup terikat dan bergantung pada pengetahuan atau persepsinya sendiri, itu disebut kenyataan. Tapi, pengetahuan atau persepsi itu sesuatu yang samar. Bisa saja kenyataan itu hanya ilusi, semua orang hidup dalam asumsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: