Tiga puluh menit bersama sang “Master”

Setelah mendengar meninggalnya istri beliau, saya mengajak teman saya Alfath untuk berta’ziyah ke rumahnya. Walaupun belum tahu dimana, tapi kami berusaha mengontek temen2 kami yg mungkin tahu. Akhirnya Alfath dapat informasi dari Jejey temen kami juga dan mengajak langsung jejey ikut bersama kami (tepatnya kami juga nebeng mobil Jejey sih…:D). Grung…. bertolaklah kami ke rumah beliau di Jl. Sukajadi No. 236 (CMIIW).

Sesampainya di lokasi kami yakin bahwa kami tidak slah alamat, buktinya ada mobil Toyota Yaris putih dengan Nopol D 313 HT. Alhamdulillah, hati saya berkata akhirnya bisa juga ketemu Bapak ini di rumahnya. Rumah yang kami kira sebelumnya akan penuh dengan pernak pernik serba antena (secara gitu kan dosen legendaris antena) ternyata malah dipenuhi beragam jenis mobil. Di gerbang depan pun tertulis bahwa di rumah itu ada bengkel mobil. Kedatangan kami disambut seseorang berkemeja putih yang mirip dengan beliau.

“Mau bertemu siapa?”, tanya orang berkemeja putih

“Bapak Herman, kami mahasiswanya”, jawab saya.

Akhirnya kami bisa juga bertemu dengannya. Inilah kurang lebih isi obrolan kami:

Pak Herman sendiri yang memulai obrolan malam itu. Dimulai dengan pertanyaan kepada kami dengan

“Anda sudah lulus(antena) kan” (Sambil nunjuk ke saya).

“Alhamdulillah sudah Pak”, jawab saya.

Pertanyaan serupa dilontarkan pula ke Alfath dan Jejey. Setelah itu, obrolan satu arah dari Pak Herman malam itu langsung bertema antena. Beliau bercerita bahwa angkatan paling sukses antenanya masih dipegang angkatan 1977 dengan kehadiran rata-ratanya 90%. Dari data itu beliau langsung berkomentar bahwa tingkat kelulusan mata kuliah antena yang dipegangnya dari tahun 1962 berbanding lurus dengan tingkat kehadiran. So, bagi yang ikut mata kuliah ini bareng Pak Herman, pada awal kuliah pasti bakal disuguhi pernyataan Pak Herman kurang lebih seperti ini,

“Saya tidak peduli anda hadir atau tidak pada mata kuliah ini, saya malah lebih senang jika anda tidak hadir dan belajar sendiri di rumah seperti di sekolah di Inggris. Di Inggris ada sekolah yang mahasiswanya disuruh belajar sendiri dan hadir ke kampus pas ujian saja. Ternyata tingkat kelulusan mereka tinggi. Namun, sepengalaman saya mahasiswa yang tingkat kehadirannya di bawah 60% tidak mungkin lulus pada mata kuliah ini”.

Jadi, ayo angkatan muda yang lain, pecahkan rekor angkatan 77 tersebut.

Setelah beliau beres dengan awalan obrolan antena, akhirnya saya membuka maksud dan tujuan kami ke sana. Kami bermaksud untuk silaturahmi dan turut berduka cita atas meninggalnya istri beliau. Beliau pun menanggapi dengan ucapan terima kasih. Dan dari maksud itulah kemudian beliau mengungkapkan pula penyebab kematian istri tercintanya. Ibu Titin meninggal karena gagal ginjal dan sudah berobat cuci darah selama lima tahun. Cukup lama juga ya. Dan Pak Herman juga ternyata tahu banyak tentang kesehatan.

Awalnya beliau bercerita terlebih dahulu tentang penyakit yang pernah menyerang beliau, yaitu asam urat. Konon katanya penyakit ini bisa juga mengakibatkan gagal ginjal (itu kata Pak Herman ya..). Jadi, bagi pembaca yang punya asam urat informasi ini mudah2an bisa sedikit membantu. Penyakit ini disebabkan karena adanya kadar asam urat dalam tubuh kita yang terlalu berlebihan. Sebenarnya tubuh kita mempunyai antibodi untuk penawarnya sih, tapi jika sudah kebablasan dosisnya dalam tubuh kita bisa aja kita menambahkan obat yang sebenarnya mengandung zat yang sama dengan antibodi yg dihasilkan tubuh kita itu. Gejala yang timbul biasanya terasa nyeri pada bagian persendian tubuh karena terjadi pengendapan yang membentuk jarum seakan-akan menusuk bagian tubuh dalam kita. Nah, kasus yang gagal ginjal itu kebetulan yang diserangnya bagian ginjal (Na’udzubillah….).

Makananlah penyebabnya timbul penyakit asam urat ini. Pak Herman pun bilang kalau ternyata sayuran itu menyuplai kadar asam urat yang paling sedikit (semua makanan katanya ada kadar asam uratnya). Makanan jeroan-lah yang paling banyak menyuplai asam urat. Babat lah, hati lah, dll. Jadi, bagi penggemar daging bagian dlam apapun hati-hati ya, mesti sering cek kadar asam urat dan antibodi di tubuh kita (saya lupa apa ya nama antibodinya). Karena beliau pernah terserang penyakit ini, sampai sekarang beliau masih mengonsumsi obak Generik yang harganya super murah untuk menghasilkan antibodi terhadap asma urat tersebut. Katnya dari tahun 1999 alhamdulillah beliau belum pernah terserang lagi.

Intinya, obrolan setengah jam tersebut sangat berkesan, banyak hikmah yang bisa kami ambil. Salut lah untuk dosen senior ini. FYI, beliau adalah angkatan ITB tahun 1956 dan mulai ngajar tahun 1962. Selain pengetahuan dunia antena di perkuliahan ternyata beliau juga banyak tahu tentang kesehatan. Terima kasih Pak, salut… semoga tetap sehat dan bisa terus berbakti ke ITB.

Satu Balasan ke Tiga puluh menit bersama sang “Master”

  1. nandyagoesti mengatakan:

    nice post jae…inspiring..

    turut berduka cita..semoga amal almarhumah diterima di sisi-Nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: