Pos Ronda

Seperti yang kita tahu rata-rata di setiap RT/RW ada satu pos ronda. Tentunya kau tau kawan fungsi pos ronda tersebut. Ya, untuk menjaga keamanan lingkungan di malam hari. Selain itu, seringkali pos ronda dijadikan tempat berkumpul para warga terutama ketika hari-hari besar. Misalnya untuk perlombaan 17 Agustus. Tapi pos ronda ini bagiku mengingatkan akan suatu pengalaman yang tak akan terlupa kawan. Simaklah!

Delapan tahun yang lalu ketika ku masih tinggal di Pesantren di Purwakarta, aku masih duduk di bangku SMA kelas satu. Di Pesantren yang pertama ini aku mulai mengenyam pendidikan non formal Pesantren seperti pengajian dan Peringatan Hari Besar Islam. Siang sekolah di SMAN I Purwakarta, dan malam mengikuti kegiatan pengajian. Teman sekamarku waktu itu adalah penggila bola, sama sepertiku. Ketika berbicara tentang sepakbola, kita bak seorang komentator di TV-TV di Indonesia. Tau tentang transfer pemain, hasil pertandingan terbaru, bahkan perkiraan skor pertandingan yang akan berlangsung. Memang sudah jati dirinya bangsa Indonesia yang suka hanya mengomentari kali ya, anak Pesantren pun dalam masalah komentar tak kalah jago.

Jujur saja waktu itu tidak ada media informasi di Pesantren kami, baik TV ataupun Radio. Tapi otak kami tak habis akal, kami biasanya menggali dari informasi teman-teman di sekolah. Maklum rata-rata kan mereka tinggal di rumah. Dengan pura-pura mengikuti diskusi mereka, sediki demi sedikit sering kugali informasi tentang sepakbola.
“Sip, ini akan jadi bahan diskusi ntar di Pesantren”. Cetusku dalam hati.
Begitulah informasi yang kami gali setiap harinya. Sepakbola dan terus sepakbola.

Demikian pula dengan jadwal pertandingan yang akan berlangsung, tak kan kami lewatkan gali dari teman-teman sekolah. Tapi sayang kawan, asrama pesantren kita tidak ada TV. Mana penanyangan siaran langsung biasanya malam, bahkan kadang dini hari. Untung masih selalu menyertai kami. Di dekat pesantren ada pos ronda yang terpasang TV. Nah, di sinilah kami selalu menonton pertandingan sepakbola yang disiarkan stasiun swasta. Jangan kira kami minta ijin dulu kawan. Menyelinap setiap akan menonton adalah cara kami, biasanya kami lakukan dengan menutup diri menggunakan sarung. Padahal pengasuh kami yang kebetulan tinggal satu bangunan di Pondok selalu mewanti-wanti kami untuk tidur jangan terlalu malam karena aktivitas pengajian pagi hari telah menunggu. Imbas ‘kegiatan’ kami itu ya rasa kantuk ketika pengajian berlangsung.

Selain ada pesawat TV yang selalu menyala, di dekat pos ronda tersebut juga terdapat lapangan bulu tangkis. Awal berkunjung juga kaget, kenapa kok bisa selengkap ini. Ternyata ada donatur yang sangat dermawan yang tinggal di sekitar tempat tersebut. Kami sering menyebutnya saat itu pos rond HS. Kenapa? karena donaturnya adalah sang pemilik Kopi Giling HS. Saking dermawannya donatur tersebut kawan, hampir semua fasilitas umum di sekitar Pesantrenku pasti bertuliskan Kopi Giling HS.

Ah, itu cerita dulu tentang nonton bola di pos ronda. Sekarang di Banjarbaru, tak kutemukan hal tersebut. Imbasnya, karena masih belum ada TV, sepakbola tak bisa kutonton selalu. Paling review di internet saja. Terima kasih Kopi Giling HS, dan mohon maaf guruku atas sering kaburnya kami tuk nonton sepakbola…^_^. Semoga ilmu yang telah kau berikan kepadaku tetap berkah. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: